[CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Halaman 1 dari 2 • Share •
Halaman 1 dari 2 • 1, 2 
[CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
OOT: CLOSED, Kazu and Allo only 
Sett: Malam hari, jam 8. Setelah 'Winter Day' untuk Allo
Akhirnya ia benar-benar pulang malam. Jam 8, dan tentunya langit sudah gelap. Namun tidak ada bintang yang berkilauan, ataupun cahaya temaram bulan. Awan gelap menutupinya. Udara dingin semakin menjadi. Allo semakin menggigil. Napasnya sedikit sesak. Hmph, ternyata memang benar kalau musim dingin adalah musuhnya. Lihat, sekarang ia mulai merasa sesak. Ehm, salahnya juga, sih. Lima jam di tengah udara sedingin itu. Padahal Allo tidak kuat terlalu lama kedinginan. Yah, beginilah akhirnya. Untungnya ia membawa obat. Jadi tidak sampai benar-benar sesak. Tapi tetap saja menyiksa. Heh, tunggu Kazu tahu dan mengomentarinya dengan sinis.
Ia merapatkan jaketnya. Memeluk lengannya sambil terus berjalan dengan cepat. Koridor terasa begitu panjang. Napasnya semakin terengah-engah. Oh, ayolah...tidak lucu kalau sampai pingsan di sini. Hanya tinggal beberapa langkah dari ruangannya. Allo mempercepat langkahnya, sambil merogoh saku untuk mengambil kunci. Tepat ketika sampai di depan pintu, kunci sudah ada di genggamannya. Allo memasukkan kunci itu ke lubang kunci di pintu. Setelah terdengar bunyi pelan, ia memutar kenop pintu, dan melepaskan kuncinya.
Ah, sampai. Ia menghela napas lega saat membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Oi, aku pulang," ucapnya asal. Entah ada yang mendengar atau tidak.
Allo berjalan menuju kamar. Mendapati suasana sepi, sepertinya Hyo sudah tidur. Kazu? Entahlah. Mungkin sedang keluar. Ia tidak peduli. Dan pasti Kazu akan pulang malam kalau keluar. Menyebalkan. Apalagi kalau dia lupa membawa kunci, Allo terpaksa bangun dan membukakan pintu. Hmph, benar-benar sosok ayah yang bodoh. Untung Allo bukan anak kandungnya. Bisa malu setengah mati kalau ia benar-benar memiliki ayah seperti Kazu. Oh ya, Allo juga tidak pernah mengakui kalau Kazu itu ayah angkatnya.
Dengan langkah cepat, Allo masuk ke kamar mandi. Sepertinya tak ada salahnya mandi air hangat dulu. Sekaligus menghangatkan tubuhnya yang terasa beku itu. Yep, setelah itu baru cek ada makanan atau tidak.
...
...
"Hn? Hanya ada ramen cup?"
Allo mendesah pasrah mendapati 2 cup ramen instan di lemari dapur. Astaga, ia baru ingat belum belanja untuk minggu ini. Kulkas juga kosong. Oke, berarti besok pagi harus belanja. Kasihan Hyo harus makan makanan instan. Tidak baik untuk remaja seusianya. Allo akhirnya membuka plastik pembungkus ramen cup itu. Membuka tutupnya, lalu menyeduhnya dengan air panas. Haah, dia memang suka ramen. Tapi untuk ramen instan, Allo kurang menyukainya.
Ia membawa ramen itu ke ruang tamu. Duduk di sofa, lalu menyalakan TV. Ramen-nya ia letakkan di meja. Menunggu matang. Allo mengacak sedikit rambutnya yang masih agak basah itu. Tubuhnya yang dibalut kaus putih berlengan pendek sudah tidak kedinginan. Kakinya ditutupi celana kargo panjang yang sedikit kebesaran. Matanya fokus menatap layar TV, tepatnya matanya yang tidak ditutupi eyepatch.
"Aaah...sepi!" ia malah bergumam kesal. Tidak enak juga sendirian.

Sett: Malam hari, jam 8. Setelah 'Winter Day' untuk Allo
Akhirnya ia benar-benar pulang malam. Jam 8, dan tentunya langit sudah gelap. Namun tidak ada bintang yang berkilauan, ataupun cahaya temaram bulan. Awan gelap menutupinya. Udara dingin semakin menjadi. Allo semakin menggigil. Napasnya sedikit sesak. Hmph, ternyata memang benar kalau musim dingin adalah musuhnya. Lihat, sekarang ia mulai merasa sesak. Ehm, salahnya juga, sih. Lima jam di tengah udara sedingin itu. Padahal Allo tidak kuat terlalu lama kedinginan. Yah, beginilah akhirnya. Untungnya ia membawa obat. Jadi tidak sampai benar-benar sesak. Tapi tetap saja menyiksa. Heh, tunggu Kazu tahu dan mengomentarinya dengan sinis.
Ia merapatkan jaketnya. Memeluk lengannya sambil terus berjalan dengan cepat. Koridor terasa begitu panjang. Napasnya semakin terengah-engah. Oh, ayolah...tidak lucu kalau sampai pingsan di sini. Hanya tinggal beberapa langkah dari ruangannya. Allo mempercepat langkahnya, sambil merogoh saku untuk mengambil kunci. Tepat ketika sampai di depan pintu, kunci sudah ada di genggamannya. Allo memasukkan kunci itu ke lubang kunci di pintu. Setelah terdengar bunyi pelan, ia memutar kenop pintu, dan melepaskan kuncinya.
Ah, sampai. Ia menghela napas lega saat membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Oi, aku pulang," ucapnya asal. Entah ada yang mendengar atau tidak.
Allo berjalan menuju kamar. Mendapati suasana sepi, sepertinya Hyo sudah tidur. Kazu? Entahlah. Mungkin sedang keluar. Ia tidak peduli. Dan pasti Kazu akan pulang malam kalau keluar. Menyebalkan. Apalagi kalau dia lupa membawa kunci, Allo terpaksa bangun dan membukakan pintu. Hmph, benar-benar sosok ayah yang bodoh. Untung Allo bukan anak kandungnya. Bisa malu setengah mati kalau ia benar-benar memiliki ayah seperti Kazu. Oh ya, Allo juga tidak pernah mengakui kalau Kazu itu ayah angkatnya.
Dengan langkah cepat, Allo masuk ke kamar mandi. Sepertinya tak ada salahnya mandi air hangat dulu. Sekaligus menghangatkan tubuhnya yang terasa beku itu. Yep, setelah itu baru cek ada makanan atau tidak.
...
...
"Hn? Hanya ada ramen cup?"
Allo mendesah pasrah mendapati 2 cup ramen instan di lemari dapur. Astaga, ia baru ingat belum belanja untuk minggu ini. Kulkas juga kosong. Oke, berarti besok pagi harus belanja. Kasihan Hyo harus makan makanan instan. Tidak baik untuk remaja seusianya. Allo akhirnya membuka plastik pembungkus ramen cup itu. Membuka tutupnya, lalu menyeduhnya dengan air panas. Haah, dia memang suka ramen. Tapi untuk ramen instan, Allo kurang menyukainya.
Ia membawa ramen itu ke ruang tamu. Duduk di sofa, lalu menyalakan TV. Ramen-nya ia letakkan di meja. Menunggu matang. Allo mengacak sedikit rambutnya yang masih agak basah itu. Tubuhnya yang dibalut kaus putih berlengan pendek sudah tidak kedinginan. Kakinya ditutupi celana kargo panjang yang sedikit kebesaran. Matanya fokus menatap layar TV, tepatnya matanya yang tidak ditutupi eyepatch.
"Aaah...sepi!" ia malah bergumam kesal. Tidak enak juga sendirian.

Allocco Scarlett- Member

- Posts: 78
Points: 89
Reputation: 0
Join date: 10.05.09
Age: 17
Character Bio
Job: Student of 3rd Senior High School, freelance photographer
Status: Single
Self-quote: "Get out from my sight, brat..."
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Jam 8 ya? Hm, hari ini dia selesai lebih cepat dari biasanya. Bagusla--
"A--achoo!"
Ok, tidak bagus juga. Ia mengeluarkan tissue, mengelap jejak bersin dari wajahnya. Yah, apa boleh buat. Ini resiko kalau kerja sampai malam, dan kalau menjadi satu-satunya pencari nafkah di keluarga.
Kazu pun melangkahkan kakinya, akhirnya sampai di depan ruangan apartemennya. Tangannya merogoh saku, mencari kunci. Yah, dia tak ingin membangunkan dua makhluk kecil di dalam sana. Tapi malang, hari itu dia tidak membawa benda mungil itu.
Menghela nafas pasrah, dia akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan saja. Dengan perlahan, diketuknya pintu tiga kali sambil menarik nafas lelah.
"Allocchan? Kamu masih bangun?" panggilnya dari balik pintu, tak keras tapi jelas.
"A--achoo!"
Ok, tidak bagus juga. Ia mengeluarkan tissue, mengelap jejak bersin dari wajahnya. Yah, apa boleh buat. Ini resiko kalau kerja sampai malam, dan kalau menjadi satu-satunya pencari nafkah di keluarga.
Kazu pun melangkahkan kakinya, akhirnya sampai di depan ruangan apartemennya. Tangannya merogoh saku, mencari kunci. Yah, dia tak ingin membangunkan dua makhluk kecil di dalam sana. Tapi malang, hari itu dia tidak membawa benda mungil itu.
Menghela nafas pasrah, dia akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan saja. Dengan perlahan, diketuknya pintu tiga kali sambil menarik nafas lelah.
"Allocchan? Kamu masih bangun?" panggilnya dari balik pintu, tak keras tapi jelas.

Hidekazu Kaishou- Guardian

- Posts: 69
Points: 77
Reputation: 0
Join date: 13.05.09
Character Bio
Job: Host, sekalipun alergi wanita .w. *menahan alergi*
Status: It is complicated
Self-quote: Oke, ini jadi kebiasaan sekarang... *sighs*
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Sepertinya memang tidak ada acara menarik malam ini. Ia mematikan TV, lalu melempar remote-nya ke sisi lain sofa. Allo mengangkat kedua kakinya. Merapatkan kakiknya ke dada. Tangannya terulur meraih cup ramen yang tak jauh dari jangkauannya. Hangat, Allo tersenyum tipis merasakan kehangatan di telapak tangannya. Sepertinya ramen itu sudah matang. Membuka penutup cup itu, Allo menghirup aroma ramen kesukaannya itu. Aah...laparnya.
...kok dia jadi ingat kejadian di taman tadi?
Saat pemuda berambut coklat itu mendekat padanya. Meletakkan tangannya yang besar dan hangat di pipi Allo yang dingin itu. Bagaimana ia tersenyum, yah...membuatnya benar-benar merasa hangat. Allo benar-benar bingung, kenapa ia jadi terpikir terus? Memangnya...
"Aaah...hentikaan! Apa-apaan sih?!" ia berseru kesal, dengan wajah memerah.
Huh? Sepertinya Kazu sudah pulang?
Allo menghela napas, kesal. Benar kan, tidak bawa kunci? Ia beranjak dari sofa. Lalu meraih kunci di meja kecil. Melangkah agak cepat, ia membuka pintu. Mendengus saat mendapati pria yang dibencinya setengah mati itu.
"Jangan berisik. Cepat masuk! Jangan lupa tutup pint--uhuk...uhuk..."
Kata-katanya terpotong. Sial, ia batuk. Allo menutupi mulutnya dengan tangan kanannya. Lalu berjalan masuk ke ruang tamu. Yah, semoga Kazu tidak mendapati wajahnya yang agak merah.
...kok dia jadi ingat kejadian di taman tadi?
Saat pemuda berambut coklat itu mendekat padanya. Meletakkan tangannya yang besar dan hangat di pipi Allo yang dingin itu. Bagaimana ia tersenyum, yah...membuatnya benar-benar merasa hangat. Allo benar-benar bingung, kenapa ia jadi terpikir terus? Memangnya...
"Aaah...hentikaan! Apa-apaan sih?!" ia berseru kesal, dengan wajah memerah.
Huh? Sepertinya Kazu sudah pulang?
Allo menghela napas, kesal. Benar kan, tidak bawa kunci? Ia beranjak dari sofa. Lalu meraih kunci di meja kecil. Melangkah agak cepat, ia membuka pintu. Mendengus saat mendapati pria yang dibencinya setengah mati itu.
"Jangan berisik. Cepat masuk! Jangan lupa tutup pint--uhuk...uhuk..."
Kata-katanya terpotong. Sial, ia batuk. Allo menutupi mulutnya dengan tangan kanannya. Lalu berjalan masuk ke ruang tamu. Yah, semoga Kazu tidak mendapati wajahnya yang agak merah.

Allocco Scarlett- Member

- Posts: 78
Points: 89
Reputation: 0
Join date: 10.05.09
Age: 17
Character Bio
Job: Student of 3rd Senior High School, freelance photographer
Status: Single
Self-quote: "Get out from my sight, brat..."
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Ah, pintu dibuka. Seperti biasanya, bukan disambut dengan senyum. Tapi dengan wajah yang merengut. Yah, ini sudah biasa.
"Yare yare, setidaknya katakan 'Selamat datang' atau apa gitu. Toh nilaimu sudah cukup untuk jadi ibu rumah tangga," kata Kazu cuek sambil melepas jaketnya dan sarung tangan kulitnya.
Dia menghentikan aktifitasnya ketika mendengar suara Allo yang terbatuk. Matanya menyipit, dan pria ini dengan cepat menghampiri pemuda itu. Tangannya yang besar mendadak menggenggam pundak Allo, dan pemiliknya menunduk hingga dahi mereka bersentuhan.
"Panas," gumamnya curiga. "Dan kau batuk, lalu wajahmu juga merah. Nah? Apa ada yang mau kau katakan padaku, Kitten?"
Great. Kenapa wajah mereka begini dekat? Dia bahkan bisa menghirup nafas anak itu, dan mungkin anak itu bisa merasakan aroma mint dari nafasnya.
"Yare yare, setidaknya katakan 'Selamat datang' atau apa gitu. Toh nilaimu sudah cukup untuk jadi ibu rumah tangga," kata Kazu cuek sambil melepas jaketnya dan sarung tangan kulitnya.
Dia menghentikan aktifitasnya ketika mendengar suara Allo yang terbatuk. Matanya menyipit, dan pria ini dengan cepat menghampiri pemuda itu. Tangannya yang besar mendadak menggenggam pundak Allo, dan pemiliknya menunduk hingga dahi mereka bersentuhan.
"Panas," gumamnya curiga. "Dan kau batuk, lalu wajahmu juga merah. Nah? Apa ada yang mau kau katakan padaku, Kitten?"
Great. Kenapa wajah mereka begini dekat? Dia bahkan bisa menghirup nafas anak itu, dan mungkin anak itu bisa merasakan aroma mint dari nafasnya.

Hidekazu Kaishou- Guardian

- Posts: 69
Points: 77
Reputation: 0
Join date: 13.05.09
Character Bio
Job: Host, sekalipun alergi wanita .w. *menahan alergi*
Status: It is complicated
Self-quote: Oke, ini jadi kebiasaan sekarang... *sighs*
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Mungkin alasan kenapa Allo belum tidur karena ia menunggu Kazu. Kadang ia merasa kasihan juga pada pria itu. Pulang malam, apalagi di musim dingin begini. Allo sudah sangat berbaik hati mau menunggu sampai Kazu pulang. Sebenarnya tidak berniat untuk sampai sebaik itu juga pada Kazu. Tapi sepertinya kepalanya yang sedikit pusing membuatnya rela terjaga menunggu Kazu malam ini. Ah, sudahlah. Allo tidak perlu merisaukannya. Yang penting Kazu sudah pulang, dan ia bisa tidur setelah ini.
"Aku bukan ibu rumah tangga. Sudahlah, cepat masuk. Dingin..." Allo membalas, datar seperti biasa.
Ketika ia berjalan menjauhi pintu, tangan besar yang tak asing untuknya menggenggam pundak pemuda itu. Allo tidak sempat mengatakan apapun untuk protes. Dahi ayah dan anak itu sudah menempel. Membuat Allo hanya dapat menatap mata coklat kemerahan pria yang 10 tahun lebih tua darinya. Hmph...sial. Ia jadi berdebar-debar.
Tunggu, barusan ia merasakan kalau ia berdebar-debar?!
"Tidak--tidak ada apa-apa..." Allo sendiri tidak menyadari suaranya sedikit lebih pelan. Ah, napasnya terasa berat.
Tapi...kenapa ia tidak segera melepaskan diri? Diam, merasakan aroma mint dari napas Kazu. Uh, oke. Jangan-jangan dia demam.
"Aku bukan ibu rumah tangga. Sudahlah, cepat masuk. Dingin..." Allo membalas, datar seperti biasa.
Ketika ia berjalan menjauhi pintu, tangan besar yang tak asing untuknya menggenggam pundak pemuda itu. Allo tidak sempat mengatakan apapun untuk protes. Dahi ayah dan anak itu sudah menempel. Membuat Allo hanya dapat menatap mata coklat kemerahan pria yang 10 tahun lebih tua darinya. Hmph...sial. Ia jadi berdebar-debar.
Tunggu, barusan ia merasakan kalau ia berdebar-debar?!
"Tidak--tidak ada apa-apa..." Allo sendiri tidak menyadari suaranya sedikit lebih pelan. Ah, napasnya terasa berat.
Tapi...kenapa ia tidak segera melepaskan diri? Diam, merasakan aroma mint dari napas Kazu. Uh, oke. Jangan-jangan dia demam.

Allocco Scarlett- Member

- Posts: 78
Points: 89
Reputation: 0
Join date: 10.05.09
Age: 17
Character Bio
Job: Student of 3rd Senior High School, freelance photographer
Status: Single
Self-quote: "Get out from my sight, brat..."
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
"Tidak ada apa-apa? Kau yakin?"
Nada khawatir mewarnai suara pria ini. Matanya yang coklat kemerahan menatap pemuda itu, nampak cemas. Yah, biar bagaimanapun juga Allo adalah anak angkatnya, tanggung jawabnya. Apa hanya karena itu? Tidak juga. Banyak hal lain.
"Mungkin kau demam. Sudah minum obat, Kitten?"
Dia melepaskan genggaman tangannya di pundak pemuda itu. Tangannya bergerak sedikit, lalu membelai pipi pemuda itu. Sebentar saja, karena berikutnya dia sudah berlalu. Berjalan menjauh ke arah dapur, mencari makanan. Tak peqlu bilang lagi kan? Perutnya lapar.
"Ada makanan tidak, Allocchan?" tanyanya dengan suara yang agak keras dari dapur, sambil menggrasak isi ruangan itu. "Godd*mnit. Aku benar-benar lapar. Tidak bisa makan di Club kalau mau cepat pulang. Aaagh..."
Nada khawatir mewarnai suara pria ini. Matanya yang coklat kemerahan menatap pemuda itu, nampak cemas. Yah, biar bagaimanapun juga Allo adalah anak angkatnya, tanggung jawabnya. Apa hanya karena itu? Tidak juga. Banyak hal lain.
"Mungkin kau demam. Sudah minum obat, Kitten?"
Dia melepaskan genggaman tangannya di pundak pemuda itu. Tangannya bergerak sedikit, lalu membelai pipi pemuda itu. Sebentar saja, karena berikutnya dia sudah berlalu. Berjalan menjauh ke arah dapur, mencari makanan. Tak peqlu bilang lagi kan? Perutnya lapar.
"Ada makanan tidak, Allocchan?" tanyanya dengan suara yang agak keras dari dapur, sambil menggrasak isi ruangan itu. "Godd*mnit. Aku benar-benar lapar. Tidak bisa makan di Club kalau mau cepat pulang. Aaagh..."

Hidekazu Kaishou- Guardian

- Posts: 69
Points: 77
Reputation: 0
Join date: 13.05.09
Character Bio
Job: Host, sekalipun alergi wanita .w. *menahan alergi*
Status: It is complicated
Self-quote: Oke, ini jadi kebiasaan sekarang... *sighs*
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Sejak kapan Kazu bisa terdengar khawatir begitu? Mungkin Allo yang pusing, atau salah dengar, ya. Hahaha, mana mungkin pria itu khawatir padanya? Adanya dia khawatir harus mengeluarkan uang kalau Allo sakit, kan? Sudahlah. Pemuda itu terlalu berlebihan. Mungkin karena pengaruh pemuda yang ia temui di taman tadi. Geez, lihat. Ia jadi mengingatnya lagi. Memang ada yang salah pada Allo sepertinya. Oke, Allocco. Kau harus segera minum obat dan tidur.
Allo mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Kazu. Dia memang sudah minum obat, tadi. Tapi ia masih merasa pusing. Bukan karena demam, tapi karena tatapan cemas dari Kazu. Hei, apa sebelumnya Kazu pernah menatapnya seperti itu? Apa dia yang terlalu angkuh sampai tidak menyadarinya? Allo sedikit tersentak saat merasakan tangan Kazu membelai pipinya.
Hangat. Seperti yang ia rasakan di taman, tadi sore.
Sentuhan itu memang cuma sesaat. Tapi terasa hangat, bahkan hingga Kazu tengah memanggilnya. Hmp, dia lapar ya? Selamat. Hanya ada ramen instan. Allo menyusul ke dapur. Menggenggam tangan Kazu yang tengah sibuk mencari makanan.
"Oi, jangan berisik. Hyo sudah tidur," ia memperingatkan, lalu melepas tangan Kazu. "Tidak ada makanan. Cuma tersisa 1 cup ramen instan. Tumben kau tidak makan di tempat kerjamu?"
Allo sedikit menekan kata-kata 'tempat kerjamu'. Yah, dia tahu kerjaan Kazu. Tapi ia tidak suka menyebutnya secara langsung.
Allo mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Kazu. Dia memang sudah minum obat, tadi. Tapi ia masih merasa pusing. Bukan karena demam, tapi karena tatapan cemas dari Kazu. Hei, apa sebelumnya Kazu pernah menatapnya seperti itu? Apa dia yang terlalu angkuh sampai tidak menyadarinya? Allo sedikit tersentak saat merasakan tangan Kazu membelai pipinya.
Hangat. Seperti yang ia rasakan di taman, tadi sore.
Sentuhan itu memang cuma sesaat. Tapi terasa hangat, bahkan hingga Kazu tengah memanggilnya. Hmp, dia lapar ya? Selamat. Hanya ada ramen instan. Allo menyusul ke dapur. Menggenggam tangan Kazu yang tengah sibuk mencari makanan.
"Oi, jangan berisik. Hyo sudah tidur," ia memperingatkan, lalu melepas tangan Kazu. "Tidak ada makanan. Cuma tersisa 1 cup ramen instan. Tumben kau tidak makan di tempat kerjamu?"
Allo sedikit menekan kata-kata 'tempat kerjamu'. Yah, dia tahu kerjaan Kazu. Tapi ia tidak suka menyebutnya secara langsung.

Allocco Scarlett- Member

- Posts: 78
Points: 89
Reputation: 0
Join date: 10.05.09
Age: 17
Character Bio
Job: Student of 3rd Senior High School, freelance photographer
Status: Single
Self-quote: "Get out from my sight, brat..."
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Dilihat dari luar, dia memang terkesan sangat cuek dan hanya memikirkan uang saja. Akan tetapi, sesungguhnya, dia memikirkan orang lain lebih dari itu.
Makanya dia selalu berpikir lebih tentang Allo. Dia tahu, pemuda itu tidak sekuat kelihatannya. Bisa dikatakan, rapuh di dalam.
Makanya dia yang harus menjaganya.
Dia berhenti mencari ketika mendengar kata-kata Allo dan merasakan tangannya digenggam pemuda itu. Heh? Tumben sekali. Biasanya mana mau Allo menyentuhnya. Rasa heran entah kenapa melebihi ras laparnya.
"Kamu...memang demam ya?" katanya dengan wajah heran ketika tangannya dilepaskan. "Ah... Makan di sana baru mulai jam 10. Dan tentunya, aku tak mungkin pulang semalam itu. Bau wanita terlalu menyesakkan bagiku. Lagipula...aku khawatir, kalian hanya berdua di rumah. Di sebelah memang ada Adriano-kun sih, tapi tetap saja..."
Makanya dia selalu berpikir lebih tentang Allo. Dia tahu, pemuda itu tidak sekuat kelihatannya. Bisa dikatakan, rapuh di dalam.
Makanya dia yang harus menjaganya.
Dia berhenti mencari ketika mendengar kata-kata Allo dan merasakan tangannya digenggam pemuda itu. Heh? Tumben sekali. Biasanya mana mau Allo menyentuhnya. Rasa heran entah kenapa melebihi ras laparnya.
"Kamu...memang demam ya?" katanya dengan wajah heran ketika tangannya dilepaskan. "Ah... Makan di sana baru mulai jam 10. Dan tentunya, aku tak mungkin pulang semalam itu. Bau wanita terlalu menyesakkan bagiku. Lagipula...aku khawatir, kalian hanya berdua di rumah. Di sebelah memang ada Adriano-kun sih, tapi tetap saja..."
_________________

I believe this world to be a lie; everything has been deceived
It's too late to fix now; my dreams are trampled on
And now, in the eternally vanishing cinema of despair
The discoloured film reel revolves again today
Without laughing or showing a tear, my withered self is projected on the screen
Dirty - Nightmare

Adriano Constanza- Member

- Posts: 64
Points: 70
Reputation: 0
Join date: 13.05.09
Character Bio
Job: Mahasiswa setengah pengangguran
Status: It is complicated
Self-quote: "...shut up."
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Jujur, Allo bingung kenapa Kazu tampak perhatian padanya. Bukannya baru pertama kali, tapi caranya berbeda. Tidak sinis seperti biasanya. Aneh. Atau dia yang terlalu berlebihan berpikirnya? Huh, yang jelas Allo bingung. Kazu memang sulit ditebak. Mungkin Allo tidak peduli pada Kazu. Tapi ia sudah 8 tahun tinggal bersamanya, kenapa sama sekali tidak mengenal Kazu?
Hah, ternyata dia memang tidak peka. Terlalu individualis. Atau tepatnya, dia itu bodoh. Sok kuat, padahal masih membutuhkan figur ayah. Ia berusaha membohongi dirinya sendiri agar tampak kuat. Haha, benar-benar bodoh.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tadi aku cukup lama di luar, dan sedikit kedinginan," Allo berjalan ke lemari tempat makanan terakhir di dapur itu berada. Ia mendengarkan jawaban Kazu, sambil mengambil ramen instan itu.
Huh? Tidak tega meninggalkan dirinya dan Hyo?
"Bodoh. Aku sudah besar. Bisa menjaga diriku dan Hyo. Lihat, kau jadi kelaparan dan aku yang repot!" Allo kembali mendekat pada Kazu. Ah, sepertinya dia benar-benar demam. Tubuhnya terasa ringan...
'...eh? Kok rasanya...'
Bahkan dia sendiri tak sadar kalau tubuhnya mulai terhuyung. Jatuh ke arah Kazu.
Hah, ternyata dia memang tidak peka. Terlalu individualis. Atau tepatnya, dia itu bodoh. Sok kuat, padahal masih membutuhkan figur ayah. Ia berusaha membohongi dirinya sendiri agar tampak kuat. Haha, benar-benar bodoh.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tadi aku cukup lama di luar, dan sedikit kedinginan," Allo berjalan ke lemari tempat makanan terakhir di dapur itu berada. Ia mendengarkan jawaban Kazu, sambil mengambil ramen instan itu.
Huh? Tidak tega meninggalkan dirinya dan Hyo?
"Bodoh. Aku sudah besar. Bisa menjaga diriku dan Hyo. Lihat, kau jadi kelaparan dan aku yang repot!" Allo kembali mendekat pada Kazu. Ah, sepertinya dia benar-benar demam. Tubuhnya terasa ringan...
'...eh? Kok rasanya...'
Bahkan dia sendiri tak sadar kalau tubuhnya mulai terhuyung. Jatuh ke arah Kazu.

Allocco Scarlett- Member

- Posts: 78
Points: 89
Reputation: 0
Join date: 10.05.09
Age: 17
Character Bio
Job: Student of 3rd Senior High School, freelance photographer
Status: Single
Self-quote: "Get out from my sight, brat..."
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
"Lama ke luar?" alis matanya naik sebelah dan bibirnya melengkung tipis. "Kau ini, harus kuingatkan berapa kali? Badanmu itu tak kuat udara dingin! Dan lagi, kau itu belum dewasa, tahu. Secara hukum kalian masih anak-anak, belum--"
Belum selesai dia berbicara, tubuh Allo sudah terhuyung ke arahnya. Dengan sigap, Kazu pun menangkap tubuh pemuda itu dan membawanya ke dalam dekapannya. Dengan tangannya dia pun memeriksa dahi Allo. Sangat panas.
"Lihat, sekarang apa hasilnya!" katanya kesal sambil menggendong Allo layaknya pengantin. "Tubuhmu itu tidak kuat! Harusnya kau yang paling mengerti!"
Rasa lapar terlupakan begitu saja, dia pun membawa Allo ke ruang tengah dan menidurkannya di sofa. Lalu dia pergi lagi, mengambil handuk dan baskom berisi air. Saat kembali, dia mulai mengompres Allo.
"Dasar bodoh..." gumamnya pelan.
Belum selesai dia berbicara, tubuh Allo sudah terhuyung ke arahnya. Dengan sigap, Kazu pun menangkap tubuh pemuda itu dan membawanya ke dalam dekapannya. Dengan tangannya dia pun memeriksa dahi Allo. Sangat panas.
"Lihat, sekarang apa hasilnya!" katanya kesal sambil menggendong Allo layaknya pengantin. "Tubuhmu itu tidak kuat! Harusnya kau yang paling mengerti!"
Rasa lapar terlupakan begitu saja, dia pun membawa Allo ke ruang tengah dan menidurkannya di sofa. Lalu dia pergi lagi, mengambil handuk dan baskom berisi air. Saat kembali, dia mulai mengompres Allo.
"Dasar bodoh..." gumamnya pelan.

Hidekazu Kaishou- Guardian

- Posts: 69
Points: 77
Reputation: 0
Join date: 13.05.09
Character Bio
Job: Host, sekalipun alergi wanita .w. *menahan alergi*
Status: It is complicated
Self-quote: Oke, ini jadi kebiasaan sekarang... *sighs*
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Oke, ini memang salahnya. Pergi keluar hanya dengan jaket orange yang menjadi penghangatnya. Padahal udara di luar sudah cukup membekukan. Ditambah tubuhnya yang ringkih pada udara dingin. Masih untung cuma demam. Bagaimana kalau lebih parah? Yaah, Allo memang tidak pernah memperhatikan tubuhnya dengan sungguh-sungguh. Dia malah merusaknya. Iya kan?
Semua kata-kata Kazu memang benar. Dia bodoh, dia tidak mengerti dirinya sendiri.
Allo tidak menyalahkan siapa-siapa. Dia sendiri yang merusak tubuhnya. Karena...yah, dia tidak pernah merasa eksistensinya benar-benar dibutuhkan. Dia memang terbuang. Dibuang orangtua kandungnya. Dibuang oleh teman-temannya. Jadi, untuk apa dia tetap menjaga diri?
"Kamu itu tidak pernah diharapkan di dunia. Hanya menjadi sampah!"
Kata-kata salah satu pengurus panti asuhan tempatnya dulu, terasa berdenging di telinganya. Allo memejamkan matanya. Namun kata-kata itu tetap terdengar. Kenapa? Apa benar dia memang tidak berguna?
"...Kazu..."
Allo memanggil pelan, di tengah napasnya yang terasa sesak. Bukan hanya karena kondisi tubuhnya, tapi juga karena ingatan masa lalunya yang kembali terlihat di benaknya. Seperti film lama, yang diputar kembali.
"Aku...apa--apa benar aku pantas dibuang?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Tangannya terangkat dan menutupi matanya. "...apa aku tidak berguna...?"
Dia memang bodoh. Dia memang tak kenal dirinya sendiri.
Ia merasa seperti orang asing pada dirinya sendiri.
Allo hanya menghela napas. Sesak. Rasanya menyakitkan melihat semua kenangan masa lalu itu. Kenangannya yang pahit.
Semua kata-kata Kazu memang benar. Dia bodoh, dia tidak mengerti dirinya sendiri.
Allo tidak menyalahkan siapa-siapa. Dia sendiri yang merusak tubuhnya. Karena...yah, dia tidak pernah merasa eksistensinya benar-benar dibutuhkan. Dia memang terbuang. Dibuang orangtua kandungnya. Dibuang oleh teman-temannya. Jadi, untuk apa dia tetap menjaga diri?
"Kamu itu tidak pernah diharapkan di dunia. Hanya menjadi sampah!"
Kata-kata salah satu pengurus panti asuhan tempatnya dulu, terasa berdenging di telinganya. Allo memejamkan matanya. Namun kata-kata itu tetap terdengar. Kenapa? Apa benar dia memang tidak berguna?
"...Kazu..."
Allo memanggil pelan, di tengah napasnya yang terasa sesak. Bukan hanya karena kondisi tubuhnya, tapi juga karena ingatan masa lalunya yang kembali terlihat di benaknya. Seperti film lama, yang diputar kembali.
"Aku...apa--apa benar aku pantas dibuang?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Tangannya terangkat dan menutupi matanya. "...apa aku tidak berguna...?"
Dia memang bodoh. Dia memang tak kenal dirinya sendiri.
Siapa?
Ia merasa seperti orang asing pada dirinya sendiri.
Siapa aku?
Allo hanya menghela napas. Sesak. Rasanya menyakitkan melihat semua kenangan masa lalu itu. Kenangannya yang pahit.

Allocco Scarlett- Member

- Posts: 78
Points: 89
Reputation: 0
Join date: 10.05.09
Age: 17
Character Bio
Job: Student of 3rd Senior High School, freelance photographer
Status: Single
Self-quote: "Get out from my sight, brat..."
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Gerutu yang keluar dari mulutnya dan juga gerakan tangannya segera terhenti mendengar kata-kata Allo. Dia nampak terkejut, matanya membulat kaget. Jarang sekali anak ini menampakkan sisi yang seperti ini di hadapannya. Mungkinkah karena...ingatan masa lalu yang mendadak menyerang?
Perlahan, tangannya membelai rambut pemuda itu, dan dia pun menunduk, mendaratkan kecupan kecil di dahi anak angkatnya itu. Senyumnya lebih lembut, dan ekspresi matanya nampak berbeda.
"Bagi orang lain, mungkin ya," jawab Kazu sambil tetap membelai kepala pemuda itu. "Tapi bagiku, kau adalah Kitten yang berharga. Dan tentu saja, tidak layak dibuang..."
Senyum itu masih ada di sana, dan tangannya tidak berhenti.
"Sudahlah. Jangan pikirkan lagi. Kau perlu banyak istirahat, Kitten. Dan tidak boleh keluar dulu, mengerti?"
Perlahan, tangannya membelai rambut pemuda itu, dan dia pun menunduk, mendaratkan kecupan kecil di dahi anak angkatnya itu. Senyumnya lebih lembut, dan ekspresi matanya nampak berbeda.
"Bagi orang lain, mungkin ya," jawab Kazu sambil tetap membelai kepala pemuda itu. "Tapi bagiku, kau adalah Kitten yang berharga. Dan tentu saja, tidak layak dibuang..."
Senyum itu masih ada di sana, dan tangannya tidak berhenti.
"Sudahlah. Jangan pikirkan lagi. Kau perlu banyak istirahat, Kitten. Dan tidak boleh keluar dulu, mengerti?"

Hidekazu Kaishou- Guardian

- Posts: 69
Points: 77
Reputation: 0
Join date: 13.05.09
Character Bio
Job: Host, sekalipun alergi wanita .w. *menahan alergi*
Status: It is complicated
Self-quote: Oke, ini jadi kebiasaan sekarang... *sighs*
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Allo masih memejamkan matanya. Menutupi matanya dengan tangan, seolah tidak ingin melihat apapun. Rasanya menyesakkan. Dia memang tak bisa jujur pada dirinya sendiri. Sekarang, ia baru menyadari betapa bodoh dirinya. Berusaha tampak kuat, menjaga jarak dengan orang lain. Tapi...dia sendiri tidak mampu menjaga diri. Lemah. Allo memang lemah. Seperti anak kucing yang dibuang, berusaha bertahan hidup sendiri. Tapi, ia masih membutuhkan induknya.
Untuk pertama kalinya, Allo membiarkan air mata meleleh di hadapan Kazu.
Allo tidak dapat membendungnya. Kecupan kecil di dahi pemuda itu seolah meruntuhkan semua pertahanannya. Lihat, dia memang lemah. Kehangatan tangan Kazu yang membelainya malah membuat Allo semakin tak bisa menghentikan air matanya.
"Su--sudah jelas aku tidak akan keluar..." suaranya bergetar, menahan isakkan yang hampir terdengar. "Dasar--Kazu...bodoh..."
Allo mengangkat tangan kirinya. Menangkap tangan Kazu yang tengah membelainya. Menahan tangan itu, diam di pipinya. Allo membuka matanya, menatap Kazu. Namun tidak tajam dan sinis seperti biasanya.
"Terima kasih..." gumam Allo.
Untuk pertama kalinya, Allo membiarkan air mata meleleh di hadapan Kazu.
Allo tidak dapat membendungnya. Kecupan kecil di dahi pemuda itu seolah meruntuhkan semua pertahanannya. Lihat, dia memang lemah. Kehangatan tangan Kazu yang membelainya malah membuat Allo semakin tak bisa menghentikan air matanya.
"Su--sudah jelas aku tidak akan keluar..." suaranya bergetar, menahan isakkan yang hampir terdengar. "Dasar--Kazu...bodoh..."
Allo mengangkat tangan kirinya. Menangkap tangan Kazu yang tengah membelainya. Menahan tangan itu, diam di pipinya. Allo membuka matanya, menatap Kazu. Namun tidak tajam dan sinis seperti biasanya.
"Terima kasih..." gumam Allo.

Allocco Scarlett- Member

- Posts: 78
Points: 89
Reputation: 0
Join date: 10.05.09
Age: 17
Character Bio
Job: Student of 3rd Senior High School, freelance photographer
Status: Single
Self-quote: "Get out from my sight, brat..."
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Nah lho, sekarang malah menangis. Sejak dia pertama kali membawa anak ini ke rumahnya, belum pernah sekali pun dia melihat Allo menangis. Sepertinya demam memang bisa membuat pikiran kacau...eh?
Tangannya mendadak dihentikan, diam di pipi pemuda itu. Senyumnya kembali mengembang dan dia pun menutup matanya, memikirkan segalanya. Kecintaannya pada kucing dan kemiripan anak ini dengan hewan itu bukanlah satu-satunya alasan. Tapi juga...
Dia menunduk, merengkuh anak itu dalam pelukannya. Memejamkan matanya dan berbisik di telinga anak itu. Nafasnya hangat.
"Heh, yang bodoh itu siapa sih sebenarnya?" godanya sambil terkekeh pelan. "Dan tak perlu berterima kasih..."
Cepat, tanpa jeda, dia telah menangkap bibir anak itu dalam sebuah ciuman.
"...dan jangan menangis, my precious Kitten..." tambahnya lembut.
Tangannya mendadak dihentikan, diam di pipi pemuda itu. Senyumnya kembali mengembang dan dia pun menutup matanya, memikirkan segalanya. Kecintaannya pada kucing dan kemiripan anak ini dengan hewan itu bukanlah satu-satunya alasan. Tapi juga...
Dia menunduk, merengkuh anak itu dalam pelukannya. Memejamkan matanya dan berbisik di telinga anak itu. Nafasnya hangat.
"Heh, yang bodoh itu siapa sih sebenarnya?" godanya sambil terkekeh pelan. "Dan tak perlu berterima kasih..."
Cepat, tanpa jeda, dia telah menangkap bibir anak itu dalam sebuah ciuman.
"...dan jangan menangis, my precious Kitten..." tambahnya lembut.

Hidekazu Kaishou- Guardian

- Posts: 69
Points: 77
Reputation: 0
Join date: 13.05.09
Character Bio
Job: Host, sekalipun alergi wanita .w. *menahan alergi*
Status: It is complicated
Self-quote: Oke, ini jadi kebiasaan sekarang... *sighs*
Re: [CLOSED][ROOM 403] Father and Son(?) Chronicles
Pikirannya memang sedang kacau. Hari ini, ia melihat betapa bodoh dirinya sendiri. Hanya karena angin dingin, sudah tumbang. Lalu ditolong oleh orang lain yang sudah dibentaknya karena duduk di sampingnya. Akhirnya malah menyadari kalau dirinya memang tidak ada apa-apanya di dunia ini jika sendiri. Mungkin setelah ini, Allo bisa memperbaiki sikapnya. Tidak drastis, tapi sedikit saja lebih lunak.
Allo tersenyum tipis saat merasakan Kazu mendekapnya. Mendengar suara lembut pria itu dan merasakan napasnya yang hangat membuat Allo terbenam dalam dunia yang selama ini tak pernah dirasakannya. Kehangatan yang berbeda. Lucu juga, yang memberikannya adalah Kazu. Orang yang selama ini dibencinya.
Tepatnya, orang yang dia pikir dibencinya.
"Di sini cuma kau yang bodoh, tahu..." Allo membalas, setengah bercanda.
Dan Allo terdiam, saat menyadari Kazu telah mencuri ciuman darinya.
Ciuman pertamanya.
"K--KAZUUUU!! Apa--apa yang kau lakukan, idiot?!" Allo berteriak, shock. Wajahnya semakin memerah, tapi bukan karena demam. "...kembalikan ciuman pertamaku!"
Allo memandang Kazu, dengan tatapan hampir berkaca-kaca. Benar-benar shock.
Allo tersenyum tipis saat merasakan Kazu mendekapnya. Mendengar suara lembut pria itu dan merasakan napasnya yang hangat membuat Allo terbenam dalam dunia yang selama ini tak pernah dirasakannya. Kehangatan yang berbeda. Lucu juga, yang memberikannya adalah Kazu. Orang yang selama ini dibencinya.
Tepatnya, orang yang dia pikir dibencinya.
"Di sini cuma kau yang bodoh, tahu..." Allo membalas, setengah bercanda.
Dan Allo terdiam, saat menyadari Kazu telah mencuri ciuman darinya.
Ciuman pertamanya.
"K--KAZUUUU!! Apa--apa yang kau lakukan, idiot?!" Allo berteriak, shock. Wajahnya semakin memerah, tapi bukan karena demam. "...kembalikan ciuman pertamaku!"
Allo memandang Kazu, dengan tatapan hampir berkaca-kaca. Benar-benar shock.

Allocco Scarlett- Member

- Posts: 78
Points: 89
Reputation: 0
Join date: 10.05.09
Age: 17
Character Bio
Job: Student of 3rd Senior High School, freelance photographer
Status: Single
Self-quote: "Get out from my sight, brat..."
Halaman 1 dari 2 • 1, 2 
Permissions of this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik




