[CLOSED] A morning after.

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

[CLOSED] A morning after.

Post by Dylan Stephens on Tue Jun 23, 2009 9:55 am

Timelene: Sehari setelah Now what?
Setting: Pagi hari, sekitar 7 AM

---

Satu kopi hitam panas, dua lembar roti panggang, dan satu mentega asin untuk dioleskan.

Bukan menu sarapan yang sehat, Dylan tahu. Ia harus menambah sedikit daging atau protein - karbohidrat, kalau perlu. Kalau ingat umurnya yang masih tergolong remaja - 16 tahun, menambah segelas susu untuk pertumbuhannya juga bagus. Menu ini membuatnya tidak bisa berpikir terlalu jernih. Ia tidak bisa meremehkan sarapan pagi, sesungguhnya. Sarapan pagi adalah kunci dari aktivitasnya selama satu hari ini. Harusnya ia makan porsi yang seimbang, tidak terlalu banyak, tetapi tidak terlalu dikit. Kalau ia kelelahan sebelum makan siang, bagaimana?

Namun, Dylan tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia bukan anak perempuan yang sedang melakukan diet sehat (sarapan pagi membantu untuk diet. Karena energi untuk membakar lemak didapatkan dari sarapan pagi - ketika kita bangun tidur, kita tidak memiliki energi sama sekali, hanya sisa-sisanya) atau olahragawan yang menjaga keseimbangan gizinya. Hari ini juga tidak ada sekolah (ini hari Minggu) dan ia juga tidak dalam mood untuk makan terlalu banyak.

Apakah ia masih memikirkan kejadian kemarin? Pasti. Mana bisa ia melupakannya begitu saja?

Ia merasa sangat bodoh kemarin - mengatakan apa yang menjadi rahasianya selama ini, membuat hubungan mereka berdua retak. Namun, ia sudah tidak menyesal - setidaknya ia berusaha untuk tidak menyesal, karena ia tahu itu tidak akan membantunya menyelesaikan masalah. Ia sudah memikirkan masak-masak apa yang akan ia lakukan hari ini kalau sampai bertemu dengan Alec (ia sampai tidur amat larut, atau malah pagi hari? Ajaibnya, kebiasaannya membuat ia masih sanggup bangun pagi. Namun, ia tahu, pasti hari ini ia akan langsung tertidur sekitar jam 8 malam). Bersikap biasa saja, bertingkah seperti pernyataan kemarin tidak pernah terjadi. Kalau Alec takut dan menghindarinya, ya sudah. Ia tidak bisa memaksa Alec untuk dekat lagi dengannya.

Sesungguhnya, malah ia yang takut bertemu dengan Alec. Ia takut sakit hati.

Ia menatap ke arah cangkir kopinya (kemarin ia juga minum kopi. Ah, ia memang menyukai cairan hitam ini) dan menengguknya sedikit sebelum menatap ke arah piring kecil yang berisi dua lembar roti bakar, mengambilnya selembar dan mengoleskannya dengan mentega asin yang rendah kalori itu (sekali lagi, ia tidak berdiet, tetapi itu yang ada di sana). Ia memasukan lembaran roti itu ke dalam mulutnya, memakannya perlahan. Mata hijau keemasannya menatap roti di tangannya, mulut masih mengunyah. Bukan, ia tidak menatap roti itu, pandangannya tidak fokus.

Kali ini, apa lagi yang ia pikirkan?
avatar
Dylan Stephens
Member
Member

Posts : 38
Points : 44
Reputation : 0
Join date : 11.06.09
Age : 24

Character Bio
Job: 1st Grade Senior High School
Status: Single
Self-quote: "We live with others."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Aleciel Godwin on Tue Jun 23, 2009 10:21 am

Alec melangkah dengan lemas ke restaurant yang terdapat di dalam bangunan apartment tersebut--tempat di mana sepupunya bekerja sebagai koki. Ia menguap lalu mengucek-ngucek matanya. Ia hanya tidur sekitar tiga jam semalam. Padahal Ia sudah sengaja tidur lebih awal, namun Ia terus-menerus berganti posisi di atas kasur. Matanya Ia pejamkan dengan erat, tapi kantuk tidak kunjung tiba. Kepalanya penuh akan Dylan dan berbagai pertanyaan seperti: Sejak kapan pemuda itu menyukainya, mengapa Dylan berpacaran dengan Megan bila Ia menyukai sesama jenis...lalu yang paling menyita pemikirannya: Apakah Dylan pernah memikirkan untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan dua orang yang saling mencintai terhadap dirinya?
Ia memikirkan hal tersebut sepanjang malam, sampai akhirnya Ia tertidur sekitar jam 3 pagi. Tetapi beberapa jam kemudian Ia terbangun dengan jantung berdetak kencang dan badan penuh keringat. Ia bermimpi kalau...kalau Dylan sedang me...me...melakukan...dengan dirinya...melakukan...
Mengingat mimpi itu, wajah Alec memanans dalam hitungan detik. Detak jantungnya kembali berpacu, seakan Ia baru saja menyelesaikan lari maraton beratus-ratus kilometer.
Stop, stop! Ia memarahi pikirannya sendiri sembari menggelengkan kepala.

Alec memasuki area restaurant tanpa menyadari kalau orang yang Ia impikan semalam ada di hadapannya. Begitu matanya terfokus pada Dylan yang sedang memakan sepotong roti, Alec merasa suhu tubuhnya naik semakin tinggi. Wajahnya memerah sampai ke kuping. Namun anehnya, badan anak itu malah merinding seperti di terpa angin dingin.
Ia ingin kabur, tapi kakinya seperti terpaku di lantai ruangan tersebut. Matanya pun tidak bisa Ia lepas dari sahabatnya itu.
Ia seperti orang bodoh yang terbengong-bengong melihat seseorang dengan ekspresi menyerupai pasien demam.
avatar
Aleciel Godwin
Member
Member

Posts : 48
Points : 50
Reputation : 0
Join date : 06.06.09
Age : 23

Character Bio
Job: SMU kelas 1, tapi sedang mencari kerja paruh waktu
Status: Single
Self-quote: "Take it easy, things will work out eventually..."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Dylan Stephens on Tue Jun 23, 2009 10:55 am

Hmm, besok berarti ia mulai sekolah di daerah sini, ya? Kira-kira temannya seperti apa, ya? Lalu, apa Alec juga bersekolah di sini, ya? Apa ada kemungkinan sekelas, ya?

Pikiran-pikiran itu terus menguasai pikiran Dylan (sekaligus mengalihkan pikirannya dari masalah kemarin) sambil mengunyah lagi rotinya itu, mengigitnya lagi dari lembarannya, mengunyah, dan itu ia lakukan berulang-ulang. Memangnya ada hal lain yang bisa ia lakukan? Tatapannya masih terarah ke rotinya itu (dan kadang-kadang, ke kopi hitamnya) sebelum ia merasakan seperti ada yang menatapnya.

Refleks, ia sedikit menegadahkan kepalanya, berhenti berurusan dengan sarapannya sejenak. Pandangannya berusaha menyelusuri seisi restoran itu sebelum mata hijau keemasannya bertemu dengan sosok yang tidak asing baginya.

Alec?

Ia sedikit mengerjapkan matanya, tidak yakin, sebelum kembali melihat ke sosok itu. Malah, ia melihat sekelilingnya - samping kirinya, kanannya, atau belakangnya. Siapa tahu Alec sebenarnya sedang melihat hal lain. Tidak, rasanya tidak. Nah, apa yang terjadi di sini?

Mata hijau keemasannya kembali melihat sosok itu. Ia bingung sekarang. Jangan bilang Alec kelaparan dan memerhatikan roti yang dipegangnya itu!

Ah, mengapa ia jadi berpikir aneh seperti itu? Denial - ia tidak percaya kalau Alec sedang melihatnya.
avatar
Dylan Stephens
Member
Member

Posts : 38
Points : 44
Reputation : 0
Join date : 11.06.09
Age : 24

Character Bio
Job: 1st Grade Senior High School
Status: Single
Self-quote: "We live with others."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Aleciel Godwin on Tue Jun 23, 2009 11:10 am

Dylan mengangkat pandangannya dan kini balik menatap ke arah Alec.
Jantung Alec seperti berhenti sesaat begitu pandangan mereka bertemu.
Balik badan dan pergi dari sini, bodoh! Pikirannya berseru.
Tidak, aku harus tenang! Sisinya yang lain melawan.
Biasanya Ia adalah orang yang tenang dalam menanggapi segala sesuatu; Bukan, bukan ketenangan yang berarti Ia sedang berpikir, tapi tenang karena Ia tidak memikirkan apapun dan langsung beraksi begitu sebuah ide muncul di kepalanya.
Ya, bukan Alec namanya bila Ia panik seperti ini. Tenang. Tarik nafas.

Alec menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia melakukan ritual ini beberapa kali. Kemudian secara perlahan-lahan Alec berjalan mendekat ke arah Dylan. Jantungnya masih berdetak kencang, keringat dingin pun mengucur, namun Ia nekat untuk tetap mengajak bicara pemuda tersebut.

"H-hai," Alec berkata gugup begitu Ia berhenti di samping meja Dylan. Ia berdiri sambil mengangkat sebelah tangannya sebagai salam. Ia menarik bibirnya ke satu sisi, berusaha untuk tersenyum. "Apa kabar?"
avatar
Aleciel Godwin
Member
Member

Posts : 48
Points : 50
Reputation : 0
Join date : 06.06.09
Age : 23

Character Bio
Job: SMU kelas 1, tapi sedang mencari kerja paruh waktu
Status: Single
Self-quote: "Take it easy, things will work out eventually..."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Dylan Stephens on Tue Jun 23, 2009 11:26 am

Oh, yang ini benar-benar membuat Dylan terkejut setengah mati.

Sungguh, deh, apa Alec sebegitu inginnya roti bakarnya (yang ia yakin rasanya biasa saja) sehingga sampai-sampai menghampirinya? Tidak, Dylan, bukan itu yang terjadi. Mungkin Alec ingin memerbaiki hubungannya dengannya. Mereka sudah berteman cukup lama. Mungkin Alec lebih dewasa dibandingkan pemikirannya. Mungkin anak lelaki itu berusaha menerima kenyataan kalau sahabatnya ini memiliki kelainan dan berusaha membangun persahabatan ulang dengannya (yang membuatnya cukup bahagia). Nah, kalau Alec sudah berjiwa besar begitu, mengapa ia tidak?

Ia lakukan seperti apa yang ia pikirkan semalam - bertingkah seakan pernyataan kemarin tidak pernah terjadi. Ia memberikan senyumnya (yang menggambarkan kalau ia cukup lega) dan menaruh rotinya, kedua tangan saling bertumpukan di depan wajahnya, siku menyentuh meja.

"Baik," nada suaranya tidak bisa menutup kegembiraan karena disapa oleh lelaki berambut coklat itu, "bagaimana denganmu? Sarapan? Mau duduk di meja ini?"

Pikiran Dylan yang pesimis berubah jadi optimis dalam sekejap. Kali ini ia yakin, ia dapat membangun persahabatan dengan Alec lagi (dan ia berusaha untuk tidak menyinggung rasa sukanya). Mungkin akan ada sedikit yang berubah, tetapi ia pasti bisa memerbaikinya. Ya, kembali seperti dulu. Berbicara bersama. Bertukar pikiran bersama.

Alec terlalu berharga untuknya kalau menghilang begitu saja dalam kehidupannya.

Walau sebenarnya ia tahu, pikirannya ini terlalu optimis dan naif. Mungkin Alec masih harus beradaptasi dulu dengannya. Tentu, pikiran pesimis itu masih ada. Akan tetapi, permasalahan tidak akan selesai kalau ia terus berpikiran pesimis, bukan?
avatar
Dylan Stephens
Member
Member

Posts : 38
Points : 44
Reputation : 0
Join date : 11.06.09
Age : 24

Character Bio
Job: 1st Grade Senior High School
Status: Single
Self-quote: "We live with others."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Aleciel Godwin on Tue Jun 23, 2009 11:48 am

Dylan menjawab pertanyaannya. Alec tidak terlalu mendengar apa yang dikatakan pemuda itu. Rasanya yang bisa Ia dengar saat ini hanyalah bunyi jantungnya dan mungkin beberapa patah kata. Namun Ia sempat mendengar perkataan terakhir Dylan: Ia ditawari untuk makan bersama.

Alec mengangguk, dan tanpa berkata apa-apa Ia mengambil tempat duduk yang berlawanan dengan pemuda itu. Alec tidak merasa lapar--tidak sekarang. Perutnya malah terasa sedikit mulas. Maka dari itu Ia hanya menatap Dylan, berusaha membiasakan diri dengan wajah di depannya. Tapi semakin Ia memperhatikan wajah Dylan, semakin jelas pula ingatannya akan mimpi semalam. Bagaimana dekatnya wajah sahabatnya itu dengan wajahnya sendiri sampai-sampai Ia bisa merasakan hembusan nafas hangat Dylan di wajahnya sendiri. Badan mereka saling bersentuhan. Rasanya panas, basah, lengket, dan--
...
...
Otaknya konslet.

Duk.
Alec menghantamkan dahinya sendiri ke permukaan meja makan.Dalam hati Ia berteriak-teriak kalau seorang pria normal tidak seharusnya bermimpi seperti itu. Sebagian dari dirinya menyalahkan Dylan. Dia yang membuat Alec bermimpi seperti itu. Namun saat ini Alec lebih merasa malu dibanding marah. Karena itu Ia tidak mengangkat kepalanya dari atas meja. Ia ingin menyembunyikan wajahnya yang seperti sedang terbakar. Saking panasnya, Ia yakin kalau kepalanya sekarang sedang mengeluarkan uap.
Ah, Ia benar-benar ingin menggali sebuah lubang dan masuk ke dalamnya.
avatar
Aleciel Godwin
Member
Member

Posts : 48
Points : 50
Reputation : 0
Join date : 06.06.09
Age : 23

Character Bio
Job: SMU kelas 1, tapi sedang mencari kerja paruh waktu
Status: Single
Self-quote: "Take it easy, things will work out eventually..."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Dylan Stephens on Tue Jun 23, 2009 12:12 pm

Anak lelaki itu tidak berkata apa-apa, membuat Dylan sedikit khawatir.

Apakah anak itu masih takut dengannya, tetapi berusaha untuk memberanikan diri? Ia jadi merasa bersalah. Ah, seandainya ia tidak pernah mengatakannya, pagi ini mereka bisa berbicara dengan lancar. Ia dapat merasakan Alec menatap dirinya. Apakah itu tatapan kewaspadaan? Bukan, rasanya tidak seperti itu. Atau kekhawatiran? Atau malah tatapan jijik? Tatapan kasihan? Tatapan murka? Tatapan malu? Tatapan---apa?

Dylan tidak bisa menerkanya. Sungguh, dari semua waktu yang telah ia lewatkan dengan Alec, hari ini ia paling bingung dengan tingkah anak ini yang jadi cukup--bukan, amat pendiam. Padahal, biasanya Alec akan berbicara dengan santai.

Ia makin terkejut lagi ketika Alec menghantamkan dahinya ke meja. Jangan-jangan anak ini kelaparan (mengingat masalah rotinya tadi) dan menahan diri karena memikirkan untuk memerbaiki hubungannya dengan dirinya, sehingga lupa makan? Dan karena telah bertemu dirinya, ia bahkan lupa untuk mengambil makanan untuk dirinya sendiri? Waduh, Dylan semakin tidak enak hati. Kalau anak ini pingsan karena kekurangan makanan, bagaimana? Ia sedikit mendekati Alec, tidak beranjak dari kursinya sebelum menepuk bahunya.

"Alec, kamu lapar? M-mau aku ambilkan makan?"

Ia gugup setengah mati dan khawatir. Anak ini tidak pingsan, kan?
avatar
Dylan Stephens
Member
Member

Posts : 38
Points : 44
Reputation : 0
Join date : 11.06.09
Age : 24

Character Bio
Job: 1st Grade Senior High School
Status: Single
Self-quote: "We live with others."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Aleciel Godwin on Tue Jun 23, 2009 12:26 pm

Dylan mengatakan sesuatu kepadanya yang terdengar seperti...blub...blub..blubblub...
Rasanya memang ada yang salah dengan telinganya saat ini. Atau mungkin otaknya yang tidak benar?
Namun Alec dapat merasakan sebuah sentuhan di pundak.
Ia sedikit mengangkat kepala, mengintip dari balik poni kecoklatan yang menutupi dahinya. Dylan memberikan tatapan khawatir ke arah anak itu.

"Ah, aku tidak apa-apa kok," Ia menjawab, mengira Dylan tadi menanyakan kondisinya. Alec menegakkan tubuh dan kembali duduk dengan benar. Dahinya terasa sedikit sakit, Ia mengangkat satu tangan dan menyentuh area tersebut. Ia yakin pasti dahinya memerah, bahkan mungkin benjol.
Alec menurunkan tangannya dan kini memperhatikan sarapan Dylan yang masih belum habis.

"Kau tidak usah mengkhawatirkan ku," Ia tersenyum lemas ke arah pemuda itu. "Habiskan saja sarapanmu."
avatar
Aleciel Godwin
Member
Member

Posts : 48
Points : 50
Reputation : 0
Join date : 06.06.09
Age : 23

Character Bio
Job: SMU kelas 1, tapi sedang mencari kerja paruh waktu
Status: Single
Self-quote: "Take it easy, things will work out eventually..."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Dylan Stephens on Tue Jun 23, 2009 12:34 pm

"Kamu sama sekali tidak dalam kondisi 'tidak-usah-khawatirkan-aku'."

Dylan menghela nafasnya melihat sahabatnya (apa ia masih bisa menganggap Alec sahabatnya?) yang di matanya termasuk keras kepala itu. Ia kembali duduk dengan benar, mengambil rotinya yang sudah ia makan (masih sisa sekitar setengah lembar) sebelum memindahkannya ke tangan kiri, mengambil lembaran roti yang masih utuh dengan tangan kanannya.

"Makan. Aku tidak terjadi sesuatu padamu karena tidak makan. Kalau kamu tidak mau rotiku, ambil makanan lain. Tidak baik meninggalkan sarapan, tahu."

Ia menggigit roti yang ada di tangan kirinya. Oh, etika memang menyalahkan kamu makan dari tangan kiri. Namun, kondisi ini kan, berbeda. Mata hijau keemasannya masih menatap anak lelaki itu. Ia yakin ada yang aneh dengan anak itu, tetapi apa? Bahkan senyuman yang dilemparkan Alec terlihat begitu memaksa di mata Dylan. Apakah anak ini terlalu memaksakan dirinya, seperti dugaannya sebelumnya, untuk bersahabat lagi dengannya. Ah, Dylan senang, sih. Namun, ia tidak mau Alec menjadi seperti itu.

"Dengar, jangan paksakan dirimu. Bersikaplah apa adanya. Aku tidak akan marah, kok. Sungguh."

Dylan menghela nafasnya lagi. Yah, sikap Alec hari ini sedikit banyak karena perbuatannya kemarin, bukan?
avatar
Dylan Stephens
Member
Member

Posts : 38
Points : 44
Reputation : 0
Join date : 11.06.09
Age : 24

Character Bio
Job: 1st Grade Senior High School
Status: Single
Self-quote: "We live with others."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Aleciel Godwin on Tue Jun 23, 2009 1:04 pm

Dylan tidak percaya apa yang Alec katakan dan menawarkan sepotong roti dari sarapannya sendiri.
Menyerah, Alec mengangkat tangannya untuk mengambil roti tersebut sambil bergumam, "Terimakasih."
Ia berhati-hati agar tangan kanannya itu tidak bersentuhan dengan jemari lentik Dylan yang memegang makanan tersebut, seakan Ia akan tersengat listrik bila kulit mereka bersentuhan.

Setelah roti itu pindah tangan, Alec segera mengigit ujungnya dan mengunyah dengan tatapan kosong. Ia tidak berpikir. Ia tidak ingin berpikir. Takut kalau otaknya kembali ke mimpi sialan itu.

Mungkin...aku terlalu membesar-besarkan masalah ini, Mau tidak mau, kepalanya mulai berbicara. Dylan belum tentu melihatnya seperti itu kan? Dengan penuh nafsu dan eh...ya begitu...
Tapi kalaupun iya...apa pendapatnya tentang Dylan akan berubah? Dylan orang baik. Ia tahu itu. Dan setiap orang pasti punya fantasi masing-masing kan?
...
Egh, rasanya aneh memikirkan diri sendiri menjadi bagian dari fantasi orang lain. Terutama bila orang lain itu sahabatnya. Sahabat pria-nya.

"Apa kau pernah berkhayal menciumku atau sejenisnya?" Kata-kata itu meluncur begitu saja. Bahkan Ia sendiri kaget akan apa yang baru saja diucapkan oleh mulutnya. Ia terdiam. Tegang. Dalam hati Ia memaki dirinya yang lagi-lagi bertindak tanpa berpikir. Kenapa badannya selalu lebih cepat dari otaknya? Kenapa Tuhan, kenapa?

Alec ingin menarik kembali pertanyaan itu, namun sudah terlambat. Dan walaupun dia tahu dia pasti akan menyesal nanti, Ia sebenarnya penasaran akan jawaban Dylan. Karena itu Ia menunggu. Kedua tangannya memegang kedua sisi roti yang ditawarkan Dylan dengan erat sebagai pelampiasan.
avatar
Aleciel Godwin
Member
Member

Posts : 48
Points : 50
Reputation : 0
Join date : 06.06.09
Age : 23

Character Bio
Job: SMU kelas 1, tapi sedang mencari kerja paruh waktu
Status: Single
Self-quote: "Take it easy, things will work out eventually..."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Dylan Stephens on Wed Jun 24, 2009 10:35 am

Dylan tersenyum lega ketika Alec mengambil roti yang disodorkannya. Setidaknya, anak itu masih ingin makan. Ia merasa ada yang janggal dengan sikap Alec. Bagaimana, ya, seperti mendekatinya, tetapi menghindarinya. Sulit dijelaskan. Oh, Dylan tidak perlu menerka untuk tahu alasan Alec, ia sudah memikirkannya berkali-kali, tadi.

Yah, apa yang bisa ia perbuat?

Mata hijau keemasannya mengamati gerak-gerik Alec yang memakan rotinya dengan tatapan kosong itu. Apakah anak itu sedang menerawang--melamun? Dylan tidak tahu. Ia menghela nafas. Memang terlalu naif, ya, kalau mengharapkan semuanya bisa kembali seperti dulu? Namun, Dylan tidak pesimis, kok. Ia yakin pasti bisa, perlahan-lahan. Alec juga sudah mulai mendekatkan diri lagi, ini artinya hubungan mereka tidak terlalu buruk, bukan.

Selembar roti yang sejak tadi ia makan sudah hampir habis. Sebenarnya sih, karena selembar lagi rotinya sudah ia berikan kepada Alec, ia berniat untuk menambah. Ah, nanti saja. Habiskan dulu yang ini, tinggal beberapa gigitan lagi dan---

---ia tersedak.

A-a-ap-apa katanya tadi?! Telinganya tidak salah mendengar, bukan? Ia menepuk-nepuk dadanya berkali-kali sebelum meminum kopi yang belum sempat disentuhnya itu hingga habis. Ok, ia sudah tidak tersedak. Ia menghela nafas sebelum kembali mencerna pertanyaan dari Alec. P-pertanyaan macam apa itu?!

Ia menelan ludah. Sudah pasti, kan, ia pernah? Ia adalah anak lelaki umur 16 yang sehat (euh, tidak sehat juga, sih, karena masalah orientasi seksnya) dan pasti pernah membayangkan hal itu. Bermimpi juga pernah. Dan targetnya? Tentu saja orang yang ia sukai (bahkan di lobi kemarin ia sempat berpikir untuk menciumnya, untung akal sehatnya menghentikannya). Wajahnya memerah, ia menoleh ke bawah, dan berdehem sedikit.

"Euh, Alec, kalau kamu khawatir aku akan menyentuhmu karena perasaanku, tak akan aku lakukan, kok. Aku bisa mengendalikan diri d-dan aku--berharap kita bisa kembali seperti dulu lagi."

Apakah ini yang Alec takutkan? Takut kalau Dylan melakukan hal yang tidak
pantas padanya? Takut kalau Dylan dikuasai nafsu dan memaksa Alec untuk menuruti nafsunya? Itu tidak akan pernah Dylan lakukan, kok. Wajahnya masih merah, ia bahkan meminum lagi dari cangkir kopinya yang kosong. Pertanyaan itu benar-benar membuat jantung Dylan seakan dipaksa meledak.

Namun, sesungguhnya ia tidak pernah menjawab pertanyaan itu, bukan?
avatar
Dylan Stephens
Member
Member

Posts : 38
Points : 44
Reputation : 0
Join date : 11.06.09
Age : 24

Character Bio
Job: 1st Grade Senior High School
Status: Single
Self-quote: "We live with others."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Aleciel Godwin on Wed Jun 24, 2009 11:03 am

Pertanyaannya membuat Dylan tersedak. Pemuda itu menepuk dadanya, kemudian segera minum untuk membasuh makanan yang tersangkut di tenggorokan. Alec menegakkan posisinya sembari memperhatikan Dylan dengan pandangan khawatir, siap-siap melakukan pertolongan pertama bila dibutuhkan. Namun Dylan berhasil mengatasi masalah tersebut dan mulai menjawab pertanyaan yang Ia lontarkan. Saat berbicara, wajah Dylan terlihat merah dan matanya menghindari tatapan Alec.

Sahabatnya itu tidak benar-benar menjawab pertanyaannya. Namun dari jawaban yang diberikan, Alec dapat mengambil makna yang tersembunyi. Ia tidak senaif yang orang kira. Mendengar perkataan Dylan, Alec tersenyum. Jujur, Ia merasa lega. Ia takut kalau mimpinya jadi kenyataan. Ia takut terpengaruh. Ia adalah laki-laki normal. Setidaknya, itu yang Ia ingin yakini. Dan lagi, Dylan bilang Ia ingin bisa kembali seperti dulu lagi kan? Alec juga berpikir seperti itu.
Tapi sebelumnya...

"Apa aku boleh bertanya satu hal lagi?" Kali ini suaranya terdengar ringan. Tidak ada lagi tanda kegugupan. Matanya pun dengan berani menatap pemuda di depannya. "Kapan dan bagaimana kau tahu kalau kau menyukai pria? Kau tidak perlu menjawab kalau tidak mau. Aku hanya sedikit penasaran." Ia tersenyum.
Aneh rasanya ingin tahu mengenai hal yang kau takuti seperti ini. Tapi mungkin Ia takut karena tidak kenal. Bila Ia kenal lebih banyak orang homo atau setidaknya dengar lebih banyak mengenai hal tersebut, kemungkinan Ia tidak akan lagi merasa aneh.
avatar
Aleciel Godwin
Member
Member

Posts : 48
Points : 50
Reputation : 0
Join date : 06.06.09
Age : 23

Character Bio
Job: SMU kelas 1, tapi sedang mencari kerja paruh waktu
Status: Single
Self-quote: "Take it easy, things will work out eventually..."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Dylan Stephens on Wed Jun 24, 2009 11:22 am

Rasanya Dylan ingin segera kabur dari rentetan pertanyaan ini.

Sahabatnya dan rasa penasarannya yang tinggi, yang membuat Dylan heran, mengapa Alec bisa-bisanya dengan mudahnya bertanya hal seperti itu. Ingin rasanya Dylan mengatakan pepatah ini; curiousity can kill the cat - dan berharap ada kucing yang mati di dekat sini agar ia bisa meyakinkan Alec kalau rasa penasarannya itu bisa membunuh lebih banyak kucing lagi. Alec tidak ingin menjadi pembunuh, bukan?

Ok, pikirannya sudah kacau.

Lalu, bagaimana menjelaskannya? Apakah ia harus mengatakan kalau ia mengalami mimpi yang membuatnya ia sadar tentang Alec? Apakah ia harus menjelaskan mimpi apa itu? Wajahnya makin memerah, jantungnya berdebar. Tidak, tidak, tidak. Ia tidak boleh menjelaskan secara gamblang, bagaimana, ya?

"Euh, itu, aku selalu memikirkan tentang dirimu?"

Ia menjadi ragu sesaat. Matanya masih terarah ke meja, masih tidak berani menatap Alec. Wajahnya yang memerah mulai agak reda sedikit. Dia harus bisa menguasai dirinya. Apakah kira-kira Alec puas dengan penjelasan ini? Tidak. Ia sadar ia masih memegang cangkir kopinya sebelum ia letakkan di piring kecil yang menjadi tempatnya. Ia berdehem lagi, berusaha menenangkan diri, sesungguhnya.

"Sebenarnya, prosesnya tidak terlalu berbeda dengan pria menyukai wanita. Hanya masalah selera, kau tahu? Masalah ketertarikan."

Ia tertawa gugup, mata hijau keemasannya melihat ke samping kanannya. Tidak ada yang dilihat, sesungguhnya. Hanya menghindari tatap mata dengan Alec saja. Tidak mungkin ia mengatakan apa yang ia maksud dengan proses itu. Tidak mungkin.
avatar
Dylan Stephens
Member
Member

Posts : 38
Points : 44
Reputation : 0
Join date : 11.06.09
Age : 24

Character Bio
Job: 1st Grade Senior High School
Status: Single
Self-quote: "We live with others."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Aleciel Godwin on Wed Jun 24, 2009 11:53 am

Wajah Alec memerah. Baru pertama kali ini ada orang yang mengatakan kalau dia selalu memikirkan tentang dirinya. Walaupun yang berkata adalah seorang pria, Alec tidak bisa untuk tidak merasa senang dan tersanjung. Tanpa sadar, Ia tersenyum kecil.

"Oh..." Ia menganggukkan kepalanya pelan, memberi tahu kalau Ia mengerti. Ia tidak tahu harus berkata apa selanjutnya. Karena itu Ia mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Matanya menangkap jam yang tertempel di dinding.

"Kau harus pergi ke sekolah kan? Sebaiknya kau cepat-cepat," Ia menggunakan kepalanya untuk menunjuk benda tersebut. "Aku juga harus pergi untuk mencari kerja." Ia mendesah dan bangkit dari kursi.

"Sampai ketemu, Dylan," Alec tersenyum sebelum membalikkan badanya dan melangkah keluar. Kepalanya masih memikirkan perkataan Dylan. Apa yang tadi bisa dianggap sebagai pernyataan cinta tidak langsung?
Ah, pertanyaan macam apa itu? Bukannya sudah pasti kalau Dylan memang menyukainya?
Senyum di wajah Alec otomatis melebar.

[OUT]
avatar
Aleciel Godwin
Member
Member

Posts : 48
Points : 50
Reputation : 0
Join date : 06.06.09
Age : 23

Character Bio
Job: SMU kelas 1, tapi sedang mencari kerja paruh waktu
Status: Single
Self-quote: "Take it easy, things will work out eventually..."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Dylan Stephens on Wed Jun 24, 2009 12:14 pm

Sekolah? Ini hari Minggu, apa ia lupa? Oh, jangan bilang kalau Alec tidak sadar ini hari apa. Dan apa katanya tadi? Mencari kerja? Eh, apa Alec tidak bersekolah? Dylan sangat ingin bertanya, tetapi melihat Alec yang buru-buru angkat kaki, ia tidak sempat. Ia menghela nafas, tersenyum lembut ke arah anak itu (setidaknya ia tidak harus menjelaskan lagi soal proses itu, bukan?). Mudah-mudahan itu tidak dilakukan Alec karena takut padanya. Dan melihat dari tingkahnya tadi, nampaknya Alec sudah mulai merasa nyaman dengannya.

Mungkin Alec sudah percaya lagi dengan Dylan? Sudah merasa kalau Dylan tidak akan melakukan apa-apa dengannya? Sudah tidak khawatir kalau Dylan melakukan hal yang tidak pantas padanya? Kalau itu yang terjadi, Dylan merasa lega. Berarti kesempatannya untuk membangun hubungan mereka dari awal semakin tinggi. Ia rindu saat-saat dulu, saat-saat mereka saling bertukar pikiran dan bercanda tanpa rasa canggung.

"Yah, sampai jumpa."

Ia mengangkat tangannya. Ah, nampaknya ia juga harus pergi. Masih harus ada di sini, sih, untuk menambah sarapan. Namun, entah mengapa ia sudah merasa cukup kenyang. Mungkinkah karena rasa puas yang menyelubungi dirinya itu? Ah, ia tidak tahu. Pokoknya sudah cukup dengan makanan. Kalau masalah energi, masih ada sesi menyemil sekitar jam 10, kok. Buah bisa jadi pilihan yang bagus. Oh, sekali lagi, Dylan tidak berdiet. Hanya sedikit mengingat pola hidup sehat.
Ia pun berdiri dari kursinya dan beranjak meninggalkan restoran itu. Setidaknya, hari ini lebih baik dari perkiraannya semalam, bukan? Ia tersenyum--senang bukan main, sesungguhnya. Ia tidak kehilangan Alec. Alec masih mau berhubungan dengannya.

Kakinya pun ia langkahkan keluar dari tempat itu. Apa yang ia lakukan setelah ini? Ia tidak tahu. Itu bisa ia pikirkan nanti.

[Out]
avatar
Dylan Stephens
Member
Member

Posts : 38
Points : 44
Reputation : 0
Join date : 11.06.09
Age : 24

Character Bio
Job: 1st Grade Senior High School
Status: Single
Self-quote: "We live with others."

Kembali Ke Atas Go down

Re: [CLOSED] A morning after.

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik